DELAPAN KETELADANAN RASULULLAH SAW
KHUTBAH
KE-1
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ
لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ،
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا
وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
أما
بعد،
Dewasa ini kita selalu dihadapkan dengan
sebuah pernyataan dan kenyataan, bahwa bangsa ini sedang menghadapi krisis
Multi Dimensional. Begitu parah krisis yang dihadapi, sehingga susah mengambil
benang merahnya sisi mana yang lebih dominan dan mana yang harus didahulukan,
bahkan belum ditemukan solusi yang jitu dalam penyelesaiannya, akhirnya bangsa
ini tidak jelas jati dirinya di mata dunia.
إِنَّمَا
وَلِيُّكُمُ اللّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ الَّذِينَ يُقِيمُونَ
الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ -٥٥-
Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya
dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan
tunduk kepada Allah. [QS. Al-Maidah : 55]
وَمَن
يَتَوَلَّ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ فَإِنَّ حِزْبَ اللّهِ هُمُ
الْغَالِبُونَ -٥٦-
Dan barangsiapa yang mengambil Allah,
Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya
pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang. [QS. Al-Maidah : 56]
Strategi
Ibda' Binafsik ( memulai dari sendiri ) yang dilakukan oleh Rasulullah,
didukung oleh beberapa faktor penting:
Pertama
, kualitas moral-personal yang prima, yang dapat disederhanakan menjadi empat
sebagai sifat wajib bagi Rasul, yakni:
siddiq,
amanah, tabligh, dan fahtanah: jujur, dapat dipercaya, menyampaikan apa adanya,
dan cerdas. Keempat sifat ini membentuk dasar keyakinan umat Islam tentang
kepribadian Rasul saw.
Kedua
, Integritas. Integritas juga menjadi bagian penting dari kepribadian Rasul
Saw. yang telah membuatnya berhasil dalam mencapai tujuan risalahnya.
Integritas personalnya sedemikian kuat sehingga tak ada yang bisa
mengalihkannya dari apapun yang menjadi tujuannya.
Ketiga,
kesamaan di depan hukum. Prinsip kesetaraan di depan hukum merupakan salah satu
dasar terpenting.
Keempat , Penerapan pola hubungan egaliter dan akrab. Salah
satu fakta menarik tentang nilai-nilai manajerial kepemimpinan Rasul saw.
adalah penggunaan konsep sahabat (bukan murid, staff, pembantu, anak buah,
anggota, rakyat, atau hamba) untuk menggambarkan pola hubungan antara beliau
sebagai pemimpin dengan orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya.
Sahabat dengan jelas mengandung makna kedekatan dan keakraban serta kesetaraan.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ.
وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنِّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ. أقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ
وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KE-2
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ
بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ
لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Melihat
akan keberhasilan Nabi Muhammad SAW dalam mengatasi krisis Multi dimensial,
sudah saatnya kita menteladaninya karena beliau adalah contoh teladan terbaik
dan tipologi ideal paling prima. Hal ini digambarkan oleh al-Quran surat
Al-Ahzab, 33: 21 yang berbunyi:
لَقَدْ
كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ
وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً -٢١-
"Sesunggunya
pada diri Rasulullah saw. terdapat contoh tauladan bagi mereka yang
menggantungkan harapannya kepada Allah dan Hari Akhirat serta banyak berzikir
kepada Allah."
Kelima
, kecakapan membaca kondisi dan merancang strategi. Keberhasilan Muhammad saw.
sebagai seorang pemimpin tak lepas dari kecakapannya membaca situasi dan
kondisi yang dihadapinya, serta merancang strategi yang sesuai untuk
diterapkan. Model dakwah rahasia yang diterapkan selama periode Makkah kemudian
dirubah menjadi model terbuka setelah di Madinah, mengikuti keadaan lapangan.
Keberhasilan Rasul saw. dan para sahabatnya dalam perang Badr jelas-jelas
berkaitan dengan penerapan sebuah strategi yang jitu.
Keenam
, tidak mengambil kesempatan dari kedudukan. Rasul Saw. wafat tanpa
meninggalkan warisan material. Sebuah riwayat malah menyatakan bahwa beliau
berdoa untuk mati dan berbangkit di akhirat bersama dengan orang-orang miskin.
Ketujuh,
visioner futuristic. Sejumlah hadits menunjukkan bahwa Rasul SAW. adalah
seorang pemimpin yang visioner, berfikir demi masa depan (sustainable). Meski
tidak mungkin merumuskan alur argumentasi yang digunakan olehnya, tetapi banyak
hadits Rasul saw. yang dimulai dengan kata "akan datang suatu masa",
lalu diikuti sebuah deskripsi berkenaan dengan persoalan tertentu. Kini,
setelah sekian abad berlalu, banyak dari deskripsi hadits tersebut yang telah
mulai terlihat dalam realitas nyata.
Kedelapan,
menjadi prototipe bagi seluruh prinsip dan ajarannya. Pribadi Rasul Saw.
benar-benar mengandung cita-cita dan sekaligus proses panjang upaya pencapaian
cita-cita tersebut. Beliau adalah personifikasi dari misinya. Terkadang kita
lupa bahwa kegagalan sangat mudah terjadi manakala kehidupan seorang pemimpin
tidak mencerminkan cita-cita yang diikrarkannya. Sebagaimana sudah disebut di
atas, Rasul saw. selalu menjadi contoh bagi apa pun yang ia anjurkan kepada
orang-orang di sekitarnya.
إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلَّونَ عَلَى
الَّنِبْيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا. أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا
صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ
قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ
سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ
آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
Comments
Post a Comment