SIKAP SEORANG MUSLIM TERHADAP HARTANYA

Khutbah 1
Walladzina Idza Angfaku Lam Yusrifu Walam Yakturu Wakana Baena Dzalika Qowaama. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak pula kikir. Dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian (QS. Al Furqon (25) : 67)
Apakah seorang Muslim tidak boleh kaya ? Jawaban : tentu tidak
Apakah seorang Muslim harus miskin ? Jawaban : tentu tidak juga
Seseorang dikatakan kaya, apabila dia memiliki banyak harta atau hartanya berlimpah
Seseorang dikatakan miskin, apabila dia tidak memiliki harta yang banyak atau hartanya sedikit
Cinta kepada harta merupakan NALURI MANUSIA pada umumnya.
Kebanyakan dari mereka yang memiliki kecintaan kepada harta yang berlebihan berefek pada dirinya:
- Bersifat bakhil (menahan harta yang semestinya dikeluarkan, karena merasa harta yang dihasilkannya atas usahanya sendiri) dan tidak mau bersyukur (tidak mau menerima apa-apa yang telah diberikan dan lupa berterima kasih) (QS. Al ‘Aadiyaat {100} : 6-8)
Innal Insana Li Robbihi Lakanud. Wa innahu ‘ala Dzalika La Syahid. Wa innahu Lihubbil Khoiri La syadid. Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya. Dan Sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.
- Bersifat sombong (merasa diri yang paling kaya, paling banyak hartanya) (QS. 96 : 6-7)
- Bersifat serakah (tidak puas dengan apa yang dihasilkan, walaupun menurut ukuran normal sudah lebih dari cukup) (QS. 42 : 27)
- Bersifat lupa kepada Allah (karena terlalu sibuk mengurusi hartanya, sehingga lupa bahwa yang memberikan pinjaman harta itu siapa?) (QS. 63 : 9)
- Bersifat lupa sholat dan ibadah-ibadah yang lain (Ada kegiatan-kegiatan yang dapat menyita waktu sholat dan ibadah-ibadah yang lain, dikarenakan kesibukan mengurusi hartanya (QS. 24 : 37)
- Bersifat lupa mati (merasa bahwa hidup di dunia ini akan abadi, sehingga lupa terhadap akherat, lupa bahwa dirinya akan dimatikan dan akan bertemu dengan yang menghidupkan dan mematikan yaitu Allah SWT) (QS. At Takaatsur {102} : 1-8)
Alhakumuttakatsur. Hatta jurtumul Makobir. Kalla Saufata’lamun. Tsumma kalla saufata’lamun. Kalla Lau Ta’lamuna Ilmal Yakin. Latarowunnal Jahim. Tsumma Latarowunnaha Ainal Yakin. Tsumma Latus Alunna Yauma Idin ‘Anin Na’im. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka jahanam. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)



Wa Idz Ta Adzdzana Robbukum La In Syakartum La Aziidannakum, Wa Lain Kafartum Inna ‘Adzabi La Syadid. Dan ingatlah, tatkala Tuhanmu memaklumkan. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (QS. Ibrahim {1} : 7)
Khutbah 2
Sikap seorang Muslim terhadap hartanya adalah menganggap bahwa hartanya itu:
- Titipan Allah, hanya pinjaman, tidak bersifat mutlak, maka seorang muslim akan menjaga amanat harta tersebut dengan cara membelanjakan hartanya di jalan Allah. Dan jika suatu saat Allah memintanya, maka dia akan memberikannya dengan sepenuh hati. (QS. 57 : 7)
- Perhiasan Dunia, sesuatu yang dibangga-banggakan, menjadi penghias dalam kehidupan kita, maka seorang muslim tidak akan tergila-gila terhadap harta tersebut. (QS. 18 : 46)
- Ujian Keimanan, apakah dengan harta yang kita miliki, kita akan semakin dekat kepada Allah, ataukah akan semakin jauh kepada Allah ? (QS. 8 : 28)
- Bekal untuk Ibadah, apakah dengan harta itu kita lebih giat lagi dalam beribadah atau semakin malas? (QS. 9 : 41)
- Nikmat yang perlu di Syukuri (Syukur artinya berterima kasih karena adanya kebaikan yang diperoleh, yakni merasa ridha dan puas sekalipun hanya sedikit) yaitu dengan cara menyisihkan sebagian harta kita untuk orang-orang du’afa, fakir miskin, anak yatim dan orang-orang yang berhak menerimanya. (QS. 9 : 111) dan (QS. 14 : 07)

Comments

Popular posts from this blog

Makna Musibah

MANUSIA YANG MENGHALANGI BERIBADAH

NAFI'UN LI GHAIRIHI